Thamrin Mappalahere, Abstraksionis Lontara
Abstraksionis Lontara Moh. Thamrin Mappalahere memamerkan sekitar 50 karya dalam Mitos: Jejak Spirit Tradisi, 27–29 Oktober 2026.
Perupa senior Dr. Moh. Thamrin Mappalahere, M.Pd. membuka pameran tunggalnya, Mitos: Jejak Spirit Tradisi, pada Selasa sore, 27 Oktober 2026, di Warkop Indonesia, Panakkukang, Makassar. Sekitar 50 karya dipamerkan sampai Kamis, 29 Oktober.
Pameran ini menyusul pameran tunggal Goenawan Monoharto, Amrullah Syam, Budi Haryawan, Asman Djasmin, Ahmad Anzul, dan Alan Tola dalam rangkaian Spirit Leang-leang 2026, yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP.
“Kita mulai dengan diskusi dulu, biar tidak tambah abstrak,” kelakar Thamrin.
Menjaga aksara lewat lukisan
Koordinator program Wahyuddin Yunus menyebut ciri khas Thamrin: abstraksi yang selalu meneguhkan aksara Lontara dalam tiap karyanya. Lontara mulai banyak hadir dalam karyanya setelah ia menempuh magister antropologi. Di tengah memudarnya aksara itu di era digital dan kecerdasan buatan, Thamrin memandang Lontara sebagai jejak peradaban, pengetahuan, nilai, hukum adat, sejarah, dan pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan.
“Aksara Lontara akan hilang, jika tak diabadikan juga dalam karya lukisan.”
Empat daur hidup etnik Makassar — hamil, melahirkan, menikah, dan kematian — yang ia teliti dalam disertasi doktornya di UNM (2017) kerap menjadi sumber inspirasinya. Karya yang dipamerkan antara lain Mitos (2006), Anatomi (2008), replika Ambang (2012), Nyala Tersisa (2013), Jejak (2014), Belo-Belo (2022), Paruntu Kana (2022), Pappaseng (2023), Ruang (2024), Sulapa Appa (2024), serta karya mural.
Diskusi
Guru besar seni UNM, Prof. Dr. H. Abdul Aziz Ahmad, M.Pd., menjadi narasumber, dengan kritikus seni Achmad Fauzi sebagai kurator. Diskusi dipandu Dr. Cita Anggun Pratiwi, M.Sn., doktor sosiologi seni UNM yang juga putri sang perupa dan beberapa tahun terakhir kerap menjadi narator karya-karya ayahnya.
“Tujuh puluh persen hidup bapak itu habis di lukisan, 20 persen merawat tanaman, dan 10 persen sisanya menggeluti pekerjaan remeh-temeh yang membahagiakan diri, teman, dan lingkungan, termasuk main domino,” kata Cita.
Sumber
- Tribun Timur — Usia 73 Tahun, Abstraksionis Lontara Thamrin Mappalahere Pameran Tunggal di Warkop Indonesia
Detail pameran: Mitos: Jejak Spirit Tradisi.