← Jurnal 2 menit baca
Liputan —

Ishakim dan Pasar di Dinding Gua

Pameran tunggal Ishakim, Pasar: Transaksi Rupa dalam Gua Batu, dibuka dengan diskusi lukisan cadas bersama arkeolog Unhas, Yadi Mulyadi.

Oleh Redaksi

Rangkaian Spirit Leang-leang 2026 di bulan Oktober dibuka oleh pelukis Ishakim. Pameran tunggalnya, Pasar: Transaksi Rupa dalam Gua Batu, berlangsung 1–4 Oktober 2026 di Kantor Penerbit De La Macca, Jl. Borong Raya No. 75A, Makassar.

Judulnya memakai kata pasar, tetapi yang dipertukarkan adalah rupa. Batu gua dibaca sebagai ruang yang menyimpan rekaman visual dan pengalaman manusia masa lalu, dan pameran ini membuka percakapan antara seni rupa kontemporer dan kajian arkeologi.

Dari Leang Pettae sampai Leang Karampuang

Diskusi pembukaan pada Kamis, 1 Oktober, menghadirkan Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., Ketua Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin, dipandu Yohanes Benediktus, S.S., dari Lontara Hijau Education Foundation. Pembahasannya berangkat dari kawasan karst Maros-Pangkep, rumah bagi gua-gua prasejarah yang dikenal sejak pertengahan abad ke-20.

Liputan Nusantara Insight mencatat sejumlah tonggaknya. Penelitian arkeologi prasejarah di Maros pertama kali dilakukan Sarasin bersaudara pada 1895. Pada 1950, cap tangan negatif berwarna merah ditemukan di Leang Pettae. Hingga akhir 2024, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX mengidentifikasi 743 gua prasejarah di kawasan ini, dan penelitian terbaru di Leang Karampuang, Maros, menunjukkan seni cadas naratif yang diperkirakan berusia sekitar 51.200 tahun.

Usia itu tidak mudah dipastikan. Pigmen arang dapat diuji dengan radiokarbon, tetapi banyak seni cadas memakai oker, pigmen tanah dari mineral batuan.

Sumber

Detail pameran: Pasar: Transaksi Rupa dalam Gua Batu.

terima kasih sudah membaca